Kamis, 01 Desember 2011

Malam Terisak

*** Malam belum terlalu menginjak renta. Lengkung cahaya di ufuk hitam langit memberikan cercah penerangan yang tak berarti. Memang purnama telah beranjak jauh. Sementara desir angin menghentak, menggoyang-goyangkan ranting pepohon hingga berguncang. Menusukkan jarum dinginnya ke setiap pori-pori kulit tak berbalut yang dijumpainya. Sungguh bukan malam yang baik untuk diakrabi. Kecuali bagi kunang-kunang yang tengah saling berlomba memamerkan kerlipnya. Di sebuah rumah, suara lantai palupuh1 itu berderak-derak terjamah oleh derap langkah kaki-kaki. Tak seperti biasanya rumah panggung yang kuna itu dipenuhi oleh tetamu. Memang hari yang tak biasa, dimana sebatang bambu yang berujung selembar kain kuning menancap tak jauh dari tiang penyangga atap rumbai rumah itu. Ya, tetamu berdatangan dengan membawa rasa simpati dan dedo’a untuk sebuah keluarga yang cukup besar walau menetap di gubuk kecil. Sebujur jasad kurus berselimut batik terlentang di pusat deretan orang yang melingkar. Tak jauh dari jasad tersebut, seorang wanita tua tak hentinya terisak. Kerudungnya nampak basah. Basah karena memang benda itu yang dijadikannya tissue penyeka airmatanya yang tak berhenti menganak sungai. Suara tahlil dan doa-doa tetamu yang semakin ramai membuat tangis wanita itu semakin dahsyat. Beberapa orang mencoba menenangkannya, tapi wanita itu tetap tak menghiraukan. Tangisannya semakin menjadi kala ketiga anaknya mendekat, berkumpul mengitari mayat yang terbujur kaku itu. Hanya satu orang yang menangis dari mereka. dua orang lagi tidak menyadari apa yang terjadi karena di usia balita mereka masih sangat kecil untuk mengerti. Seorang bungsu segera beranjak ke pangkuan sang ibu dengan wajah yang sendu. Sungguh dia tak ingin menangis. Demi melihat ibunya yang berguncang karena tangis, toh dia pun tergerak untuk turut menangis walau tak faham apa maksudnya. Seorang ibu muda mendekat sembari mengelus bahu wanita itu. “Yang sabar Mak. Semua ini adalah kehendakNya. Semua yang ia ciptakan pada akhirnya Ia akan mengambilnya kembali. Mak harus bisa merelakan Bapak, mak. Yakinlah bahwa Bapak akan tenang menghadap sang pencipta. Mak.. , mak.. Emak..!” wanita yang dipanggil Emak itu tiba-tiba limbung. *** Suasana gaduh di rumah sungguh kontras dengan suasana di sebuah tempat tak jauh dari rumah itu. Lamat-lamat terdengar bunyi burung hantu di tengah hembusan angin yang begitu hebat. “mengenaskan sekali ya Tep, nasib Pak Adung..”, seorang pemuda membuka percakapan sembari mengayunkan cangkulnya pada sebuah bidang tanah yang agak keras. Mencoba memecah keheningan. “iya yah Jang. Meninggalnya Pak Adung teh sungguh dalam keadaan yang tidak bagus. Bayangkan, dengan kondisi ekonomi yang begitu kekurangan, dia meninggalkan empat orang yang masih sangat membutuhkannya.” Seorang pemuda lagi menimpali. Sambil menggali pula. “yang lebih memprihatinkah ya Tep, utang Pak Adung teh pan banyak. Masa iya istrinya sendirian yang menanggung semua utangnya.?” “iya juga yah. Saya mah gak bisa membayangkan. Bagaimana nanti juragan surya menagih utang Pak Adung sama istrinya. Lagian Pak Adung teh orangya begitu, suka pinjam uang, tapi tak pernah berpikir untuk melunasinya. Malah menggunakan uang itu untuk berjudi. Matinya saja sambil memegang botol arak. Terus dia itu...” “loh loh kok malah ngomongin kejelekan yang sudah mati..” “eh iya, tapi kamu tau gak, katanya orang disini, orang yang mati meninggalkan utang yang terlalu banyak itu akan terus bergentayangan sebelum ada orang yang bersedia melunasi utang-utangnya.. Wiyy..” “ah, masak sih. Emang begitu ya, mitos di daerah sini?” “katanya begitu jang. Tapi ah, jangan mikir macam-macam kita mah. Jadi merinding ini teh. Sudah ah, nih galinya jadi gak selesai-selesai atuh.” “kalo begitu mah, saya jadi was-was nih. Utang saya banyak, harus segera dilunasi sebelum saya meninggal.” “santai aja atuh jang. Itu pan cuma mitos” “akh. Buat jaga-jaga saja. Memangnya kamu udah niat mau bergentayangan dulu..?” “Hahahaha!!!” tertawa pun meledak ditengah suasana sesunyi itu. Lubang segi panjang berukuran dua kali satu meter itu kini telah siap digunakan. Setidaknya, lubang itu cukup untuk menempatkan sebujur jasad di dalamnya. Kini tiga orang pemuda yang dari tadi sibuk menggali pun dapat merehatkan badannya sejenak. Sampai akhirnya rombongan pengiring jenazah datang. Tak ada yang aneh dari prosesi pemakaman Pak Adung selain tingkah mak yang tetap tidak bisa menerima kenyataan. Wajahnya begitu pucat. Airmatanya seperti telah habis. Ia tidak bisa menjamin kehidupannya bersama anak-anaknya akan berjalan dengan baik hari esok atau seterusnya. Belum lagi utang yang sangat tidak sedikit yang harus ia tanggung seorang. Atau mengenai mitos itu. Ah, di tengah suasana duka itu, pikiran mak terasa penuh. Dijejali bertubi masalah yang sebenarnya belum terjadi. Atau lebih tepatnya akan segera terjadi. *** “saya nggak bohong...!! Benar, saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Pak Adung datang ke rumah saya. Dia memakai baju putih. Tapi ketika saya ke belakang memanggil istri saya, Pak Adung lekas menghilang.!!” Pak Surya, juragan kaya raya itu terus berkoar-koar di tengah kerumunan warga yang kian membanjir. Warung bu Martini pun tersulap menjadi pasar. Ramai sekali. Mungkin orang-orang penasaran akan kebenaran berita mengenai arwah Pak Adung yang masih gentayangan. “maraneh nyaho teu2, para warga. Pas saya melihat hantu Pak Adung itu, tiba-tiba angin bertiup kencang pisan. Saya gemetaran dan...” Di tengah cerita dari mulut yang berbusa-busa itu, seorang remaja terlihat mematung. Wajahnya tak kuasa menahan tangis. Satu dua tetes airmata mulai menganak sungai dari kedua matanya yang sayu. Sebelum kerumunan semakin padat, remaja ayu itu segera berlari. Sekuatnya dia menghindar dari keramaian. “ini tidak mungkin..” batinnya. “yu, ayu.. mau kemana kamu...? yu, jadi gak beli es krimnya??” suara itu tak mungkin didengarnya. Remaja ayu telah lari menjauh. *** Kabar mengenai gentayangannya arwah Pak Adung kian tersebar. Apalagi sumbernya bukan hanya satu. Berbagai pengalaman serupa beberapa orang lain menambah kuat kebenaran kabar itu. Seperti : “hantu itu melewati jendela kamar anak saya..”, “saya hampir tidak percaya. Dia sedang duduk di tepian kolam ikan itu..”. “dia tiba-tiba hilang saat saya membaca mantra ini..bla-bla...” Hingga “dia terbang ke atas pohon kesemek.” Atau: “aku sempat bermain catur dengan hantu itu.” Tentu saja yang terakhir ini hanya lelucon seseorang yang ingin membesar-besarkan berita itu. Kabar-kabar itu telah begitu akrab di telinga seorang wanita tua yang selalu termenung. Dia sudah dapat mengira ini akan terjadi. Tapi yang emak tak habis pikir, semua saksi hantu itu adalah orang-orang yang sempat disambangi suaminya untuk meminjam uang. Emak tak tahu apa artinya itu. Wanita malang itu kini hanya bisa pasrah. Bukan salah dia jika kini warga setempat geger tentang hantu. Bukan salah dia jika anak-anak sekarang tidak berani ke luar rumah sendirian terlebih jika di malam hari. Pun mengenai pengajian-pengajian di langgar yang kini menjadi sepi. Bukan salah dia juga mengenai utang yang keluarganya miliki, yang entah kapan dia dapat melepaskannya. Ya, keraguan memenuhi seluruh jiwa Emak saat ditanya kesediannya melunasi seluruh utang suami oleh wak haji. Memang bukan salahnya, hingga sekarang anak-anaknya menjadi makin kurus. “Mak, ayu nggak mau sekolah lagi. Teman-teman ayu mulai menjauhi ayu. Katanya mereka gak mau berteman sama anaknya hantu..” Miris. Emak segera mendekap anak sulungnya itu dengan erat. “sabar ya Nak. Emak akan berusaha menghentikan kekacauan ini. Mitos yang entah mengapa dapat terjadi menimpa kita. Emak sendiri bingung. Emak tak tahan dengan lingkungan kampung kita. Emak kini sering dicibir nak.” Rahang mak mulai mengeras. Matanya menyala-nyala. Seketika ia berdiri. ”Emak harus berbuat sesuatu untuk menghentikan semua ini. Apapun caranya.” “Emak mau ngapain mak, Emak mau dapat uang dari mana untuk melunasi utang Bapak ..?” Pertanyaan terakhir belum sempat terjawab. Anaknya yang lain memotong percakapan mereka. “Emak... asep lapar mak.” Emak segera beringsut. Dipaksakannya tubuhnya yang lemah untuk mengeruk sisa nasi di bakul. Bibirnya mulai menyunggingkan senyum. Senyum yang membuat remaja ayu terpaku. Emak masih tidak mempercayai mitos itu. Emak memang tak jarang menangkap seraut bayangan wajah itu. entah itu di halaman, di dapur, jendela atau lebih sering dalam alam mimpinya. Namun semua hadir karena pikiran yang menyesakki kepalanya dengan paksa. Tersugesti sesuatu yang tak pasti, walau ia sendiri memang meragukan ketenangan suaminya di sana. Terlebih ketika teringat masa hidup suaminya yang memang tak bersih. kebiasaan Pak Adung yang memuja syaitan. Paling tidak tiap sepekan suaminya itu menghilang. Dan pulang dengan bau kemenyan yang ia bawa. Atau percikan darah yang selalu tertinggal di bajunya. Juga bisnis haram yang membuat hidupnya bukan makin makmur, malah semakin melarat. Apa lagi uang pinjaman yang digunakan untuk bertogel, menyabung ayam, mabuk-mabukan. Namun apalah yang dapat dilakukan. Mak seperti tersihir untuk menikmati kemelaratan itu. melarat akan harta juga akan iman. Mereka tak pernah ingat Tuhan. Apalagi untuk bertakbir rukuk sujud yang sampai sekarang dia sering lupa apa nama ritual itu. yang ia tahu jumlah ritual itu lima kali sehari. Dan islam hanya sebagai lima huruf yang melengkapi biodata di kartu tanda penduduk. Ah, kini ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Hidayah Tuhan belum mendarat di lapangan hatinya yang tandus. Tapi, bagaimanapun batinnya tetap bergejolak untuk menghentikan semua masalah ini. Membasmi pikiran yang menyesakkan kepalanya. Juga kepala orang-orang yang mengaku dihantui itu. *** Di pagi yang cukup hangat, seberkas sinar menerobos celah genting yang jarang. Rupanya mentari lebih dulu bangun dari Emak. Emak pun lekas menyibukkan diri dengan gemiricik air yang masih dingin. Hari ini harus dibukanya dengan pengharapan yang besar. Rerumputan basah yang awalnya tegak berdri itu seketika rusak terinjak derap langkah kasar milik mak. Ditemani selembar map usang tebal di dekapannya, bersicepat ia beranjak menjauh dari gubuk itu. Dia tidak mau tertahan pertanyaan anaknya akan niat itu. Tiada yang terpikir di kepala mak selain membebaskan keluarganya dari himpitan masalah. Pun tak memikirkan raungan anaknya yang mungkin akan mencarinya. Bagaimana tidak, terjaga tanpa ibu di dekatnya mungkin baru kali ini akan terjadi. Emak hanya meninggalkan nasi dan daun selada rebus di meja. Tak ada pesan, tak ada uang pula yang ditinggalkan. Ini hanya perjalanan singkat. Saat senja menggiring surya ke peraduan, ia berjanji telah dapat menginjak beranda bambu itu lagi. *** Sudah sepekan berlalu. Berita tentang penampakan arwah Pak Adung lambat laun sudah jarang terdengar lagi. Tak ada lagi para saksi yang biasanya bersemangat mengemukakan pengalamannya hingga berurat. Ada kabar jika seseorang melakukan sesuatu yang membuat arwah itu tak bergentayangan lagi. Tapi warga tak peduli, toh sekarang arwah itu tak berani lagi menampakan raut seramnya. warga memang merasa senang karena kampung telah aman. Langgar pun telah kembali ramai dengan pengajian anak-anak dan remaja. Orang-orang sudah tak kembali dihantui oleh paranoid tak jelas itu. dan yang jelas gunjingan tentang Pak Adung sudah tidak terdengar lagi. Mereka sudah melupakannya. Namun ada satu yang paling membuat warga heran. Semenjak arwah Pak Adung tak lagi nampak, keluarganya pun ikut menghilang. Gubuk tua terlihat kosong beberapa hari ini. Kepergian tanpa pamit yang memang mencurigakan. *** Malam yang belum menginjak renta dengan bulatan cahaya di ufuk hitam langit yang memberikan cercah penerangan yang sempurna. Purnama yang mengutus desir angin yang menghentak, menggoyang-goyangkan ranting pepohon hingga berguncang. Semuanya seakan hadir guna membujuk seorang wanita tua untuk menghentikan isak pilunya yang berkepanjangan. Di antara rombengnya dinding-dinding kardus yang lembap, suara isak itu seakan menyatu dengan suara riak air yang kecoklatan. Tak bisalah ia menyalahi suratan akan beban yang dianugerahkan Tuhan. Ya, Tuhan memang ada dan ia baru menyadari bahwa Dia memang maha pengasih. Tuhan tidak pernah marah. Beban ini adalah tanda kasihnya yang baru ia sadari. Yang dia kirim sebagai benda asing untuk mendarat di lapangan hatinya yang tandus. Benda asing itu dinamakan hidayah. Kini ia baru tahu, cerita-cerita penampakan yang mereka koarkan adalah cara halus mereka menagih utang-utang itu. Kini ia baru memahami semua itu. *** Kumandang takbir menguar dengan kekar. Memanjakan telinga sesiapa yang merindu ganjar. Wanita tua yang mulai tergerak untuk mencari tahu mengenai ritual lima kali sehari itu pun bangkit. Meninggalkan sejenak tiga bujur yang tengah khusyuk mendengkur. Sendowo, 22 Februari 2011 *pada 21:59, di tengah obsesi yang masih terpecah-pecah.. Footnotes: 1) Lantai yang terbuat dari bambu yang dibelah hingga menjadi lempengan. 2) Kalian tahu tidak.?